Uwais Al Qarni merupakan
seorang pemuda bermata biru, rambutnya merah, pundaknya lapang panjang,
berpenampilan cukup tampan, kulitnya kemerah-merahan, dagunya menempel di dada
selalu melihat pada tempat sujudnya, tangan kanannya menumpang pada tangan kirinya,
ahli membaca Al Qur’an dan menangis, pakaiannya hanya dua helai sudah kusut
yang satu untuk penutup badan dan yang satunya untuk selendangan, tiada orang
yang menghiraukan, tak dikenal oleh penduduk bumi akan tetapi sangat terkenal
di langit. Dia, jika bersumpah demi Allah pasti terkabul. Pada hari kiamat
nanti ketika semua ahli ibadah dipanggil disuruh masuk surga, dia justru
dipanggil agar berhenti dahulu dan disuruh memberi syafa’at, ternyata Allah
memberi izin dia untuk memberi syafa’at sejumlah qobilah Robi’ah dan qobilah
Mudhor, semua dimasukkan surga tak ada yang ketinggalan karenanya. Dia adalah
“Uwais al-Qarni”. Beliau tak dikenal orang dan juga miskin, banyak orang suka
menertawakan, mengolok-olok, dan menuduh beliau sebagai tukang membujuk, tukang
mencuri serta berbagai macam umpatan dan penghinaan lainnya.
Menurut al
kisah dia tinggal di Yaman dan dia hanya bekerja sebagai pengembala domba
bayaran, dia begitu miskin hingga tak jarang dia diperolok oleh masyarakat
namun dibalik kemiskinannya itu dia tetap menyisihkan sedikit rizkinya untuk
menolong orang-orang yang membutuhkan. Dia tak memiliki sanak saudara selain
ibunya, ibunya pun juga sudah sangat lemah, sudah sangat tua sakit-sakitan dan
buta. Dia begitu menyayangi dan patuh terhadap ibunya.
Dalam keseharian dia lebih banyak
menghabiskan waktunya untuk berdzikir dan beribadah pada Allah, dia tak banyak
berbicara hingga tak banyak orang yang mengenalnya. Rabi' ibn Khutsaim berkata,
"Aku pergi ke tempat Uwais al-Qarni. Aku mendapati beliau sedang duduk
setelah selesai menunaikan shalat Subuh. Aku berkata (pada diriku), "Aku
tidak akan mengganggunya dari bertasbih. Setelah masuk waktu Dzuhur, beliau
mengerjakan shalat Dzuhur, dan begitu masuk waktu Ashar, beliau shalat Ashar.
Selesai shalat Ashar, beliau duduk sambil berdzikir hingga tiba waktu Maghrib.
Setelah shalat Maghrib, beliau menunggu waktu Isya', kemudian shalat Isya'.
Selesai shalat Isya', beliau mengerjakan shalat hingga menjelang Subuh. Setelah
shalat Subuh, beliau duduk dan tanpa sengaja tertidur. Tiba-tiba saja beliau
terbangun. Ketika itu aku mendengar dia berkata, 'Ya Allah, aku berlindung
kepada-Mu dari mata yang senang tidur, dan perut yang tidak merasa
kenyang.'" (az-Zuhdul Awa'il, Musthafa Hilmi, 84).
Diceritakan ketika terjadi perang
Uhud, Rasulullah mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh
musuh-musuhnya. Kabar ini akhirnya terdengar oleh Uwais. Ia segera memukul
giginya dengan batu hingga patah. Hal tersebut dilakukan sebagai bukti
kecintaannya kepada beliau shallallahu 'alaihi wa sallam, sekalipun ia belum
pernah melihatnya.
Hari berganti dan musim
berlalu, dan kerinduan yang tak terbendung membuat hasrat untuk bertemu tak
dapat dipendam lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya dalam hati, kapankah
ia dapat menziarahi Nabinya dan memandang wajah beliau dari dekat ? Tapi,
bukankah ia mempunyai ibu yang sangat membutuhkan perawatannya dan tak tega
ditingalkan sendiri, hatinya selalu gelisah siang dan malam menahan kerinduan
untuk berjumpa. Akhirnya, pada suatu hari Uwais mendekati ibunya, mengeluarkan
isi hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan pergi menziarahi
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di Madinah.
Sang ibu, walaupun telah uzur,
merasa terharu ketika mendengar permohonan anaknya. Beliau memaklumi perasaan
Uwais, dan berkata : “Pergilah wahai anakku ! temuilah Nabi di rumahnya. Dan
bila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang”. Dengan rasa gembira ia
berkemas untuk berangkat dan tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan
ditinggalkan serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya
selama ia pergi.
Perjalananya menuju ke Madinah
sangat berat, dia harus melewati gurun pasir dan bukit-bukit dengan berjalan
kaki, namun itu semua terkalahkan dengan rasa rindunya pada Rasulullah.
Tibalah Uwais al-Qarni di kota
Madinah. Segera ia menuju ke rumah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,
diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah Aisyah
radhiyallahu 'anha, sambil menjawab salam Uwais. Segera saja Uwais menanyakan
Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak berada di rumah melainkan berada di medan
perang. Betapa kecewa hati sang perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi yang
dirindukannya tak berada di rumah. Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu
kedatangan Rasulullah dari medan perang. Tapi, kapankah beliau pulang ?
Sedangkan masih terngiang di telinga pesan ibunya yang sudah tua dan
sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman,” Engkau harus lekas pulang”. Karena
ketaatan kepada ibunya, pesan ibunya tersebut telah mengalahkan suara hati dan
keinginannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
Ia akhirnya dengan terpaksa mohon
pamit kepada Aisyah radhiyallahu 'anha untuk segera pulang ke negerinya. Dia
hanya menitipkan salamnya untuk Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan
melangkah pulang dengan perasaan haru.
Sepulangnya dari perang, Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam langsung menanyakan tentang kedatangan orang yang mencarinya.
Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan bahwa Uwais al-Qarni
adalah anak yang taat kepada ibunya. Ia adalah penghuni langit (sangat terkenal
di langit).
Mendengar perkataan baginda
Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, Aisyah radhiyallahu 'anhu dan para
sahabatnya tertegun. Menurut informasi Aisyah radhiyallahu 'anha, memang benar
ada yang mencari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan segera pulang kembali
ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat
meninggalkan ibunya terlalu lama.
Rosulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda : “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-Qarni),
perhatikanlah, ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya.
”Sesudah itu beliau shallallahu
'alaihi wa sallam, memandang kepada Ali
dan Umar dan bersabda : “Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia,
mintalah do’a dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni
bumi”.
Tahun terus berjalan, dan tak
lama kemudian Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam wafat, hingga
kekhalifahan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu telah di estafetkan
Khalifah Umar radhiyallahu 'anhu.
Suatu ketika, khalifah Umar
teringat akan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tentang Uwais al-Qarni,
sang penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kepada Ali radhiyallahu 'anhu
untuk mencarinya bersama.
Sejak itu, setiap ada kafilah
yang datang dari Yaman, beliau berdua selalu menanyakan tentang Uwais al-Qorni,
apakah ia turut bersama mereka.
Diantara kafilah-kafilah itu ada yang merasa
heran, apakah sebenarnya yang terjadi sampai-sampai ia dicari oleh beliau berdua.
Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang
dagangan mereka. Suatu ketika, Uwais al-Qorni turut bersama rombongan kafilah
menuju kota Madinah.
Melihat ada rombongan kafilah
yang datang dari Yaman, segera khalifah Umar radhiyallahu 'anhu dan Ali radhiyallahu
'anhu mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais turut bersama mereka.
Rombongan itu mengatakan bahwa ia ada bersama mereka dan sedang menjaga
unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, beliau berdua
bergegas pergi menemui Uwais al-Qorni. Sesampainya di kemah tempat Uwais berada,
Khalifah Umar dan Ali memberi salam. Namun rupanya Uwais sedang melaksanakan
sholat. Setelah mengakhiri shalatnya, Uwais menjawab salam kedua tamu agung
tersebut sambil bersalaman.
Sewaktu berjabatan, Khalifah
Umar segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih
yang berada ditelapak tangan Uwais, sebagaimana pernah disabdakan oleh baginda
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
Memang benar ! Dia penghuni
langit. Dan ditanya Uwais oleh kedua tamu tersebut, siapakah nama saudara ? “Abdullah”,
jawab Uwais. Mendengar jawaban itu, kedua sahabatpun tertawa dan mengatakan :
“Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya ?”
Uwais kemudian berkata: “Nama saya Uwais al-Qorni”. Dalam pembicaraan mereka,
diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru
dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar
dan Ali memohon agar Uwais berkenan mendo’akan untuk mereka. Uwais enggan dan
dia berkata kepada khalifah: “Sayalah yang harus meminta do’a kepada kalian”.
Mendengar perkataan Uwais,
Khalifah berkata: “Kami datang ke sini untuk mohon do’a dan istighfar dari
anda”. Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais al-Qorni akhirnya mengangkat
kedua tangannya, berdo’a dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar berjanji
untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais, untuk jaminan
hidupnya. Segera saja Uwais menolak dengan halus dengan berkata : “Hamba mohon
supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya,
biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.
Setibanya di Madinah, kami
membagi-bagikan seluruh harta kepada orang-orang fakir di Madinah, tidak
satupun yang tertinggal. Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar kalau Uwais
al-Qorni telah pulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan
tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika
dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana sudah ada orang-orang yang
menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali
kuburnya.
Di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga
selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang
yang berebutan untuk mengusungnya. Dan Syeikh Abdullah bin Salamah menjelaskan,
“ketika aku ikut mengurusi jenazahnya hingga aku pulang dari mengantarkan
jenazahnya, lalu aku bermaksud untuk kembali ke tempat penguburannya guna
memberi tanda pada kuburannya, akan tetapi sudah tak terlihat ada bekas
kuburannya. (Syeikh Abdullah bin Salamah adalah orang yang pernah ikut
berperang bersama Uwais al-Qorni pada masa pemerintahan Khalifah Umar radhiyallahu
'anhu)
Meninggalnya Uwais al-Qorni
telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat
mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak dikenal berdatangan untuk
mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang tak
dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak
diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap
melaksanakannya terlebih dahulu.
Penduduk kota Yaman tercengang.
Mereka saling bertanya-tanya : “Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais al-Qorni
? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir yang tak memiliki
apa-apa, yang kerjanya hanyalah sebagai penggembala domba dan unta ? Tapi,
ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya
manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah
sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang di turunkan ke
bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya. Baru saat itulah penduduk
Yaman mengetahuinya siapa “Uwais al-Qorni” ternyata ia tak terkenal di bumi
tapi menjadi terkenal di langit.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar