Bismillahirrahmanirrahim
Mu-assasah Al Furqan
Mengetengahkan:
Statement Asy Syaikh Al Mujahid Abu Muhammad Al ‘Adnaniy Asy Syamiy
Juru Bicara Resmi Daulah Islamiyyah Di Iraq Dan Syam -Hafidlahullah-
Dengan Judul:
Maa Ashabaka Min Hasanatin Fa MinAllah
“Apa Saja Nikmat Yang Kamu Peroleh Maka (itu) Adalah Dari Allah”
Alih Bahasa: Abu Sulaiman Al Arkhabiliy
Segala puji hanya bagi
Allah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa. Shalawat dan salam semoga
dilimpahkan kepada Nabi yang diutus dengan pedang sebagai rahmat bagi
sekalian alam.
Amma Ba’du:
Allah Ta’ala berfirman:
إِذۡ يُوحِي رَبُّكَ
إِلَى ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ أَنِّي مَعَكُمۡ فَثَبِّتُواْ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْۚ
سَأُلۡقِي فِي قُلُوبِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ٱلرُّعۡبَ فَٱضۡرِبُواْ فَوۡقَ
ٱلۡأَعۡنَاقِ وَٱضۡرِبُواْ مِنۡهُمۡ كُلَّ بَنَانٖ
“(Ingatlah), ketika
Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku bersama kamu,
maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman”. Kelak akan
Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka
penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka.”
(Al Anfal: 12).
Segala puji bagi Allah
yang telah membuktikan janji-Nya, meneguhkan hamba-hamba-Nya, menolong
bala tentara-Nya serta menghancurkan Rafidlah sendirian.
Segala puji hanya bagi Allah yang telah memenuhi hati mereka dengan rasa takut dan memenuhi jiwa mereka dengan rasa kekalahan.
Segala puji hanya bagi
Allah yang telah menjadikan senjata-senjata mereka, perlengkapan mereka,
kendaraan-kendaraan mereka serta harta-harta mereka jatuh ke tangan
mujahidin sebagai ghanimah.
Bisa jadi dunia internasional hari ini diam tercengang di hadapan kemenangan-kemenangan Daulah Islamiyyah Di Iraq Dan Syam:
Siapa yang mendanai Daulah?
Siapa yang menyokong Daulah?
Apa sumber pendanaannya?
Dari mana suplai persenjataannya?
Siapa yang membuatkan strategi baginya?
Apa rahasia ketangguhannya padahal semua pihak sudah mengumumkan perang terhadapnya?
Ingatlah, hendaklah kalian ketahui hakikat ini:
Ingatlah, sesungguhnya Daulah itu dari Allah, ia tidak memiliki kekuatan dan tidak memiliki daya.
Daulah tidak mendapatkan
kemenangan dari sebab banyaknya personel dan perlengakapan, dan tidak
pula dari sebab persenjataan atau harta, akan tetapi Daulah hanyalah
mendapatkan kemenangan dengan karunia Allah saja karena aqidah-nya yang
menghancurkan segala syubhat dan menyingkap segala tuduhan.
Daulah mendapatkan kemenangan dengan sebab keimanan bala tentaranya terhadap pertolongan Allah.
ٱلَّذِينَ قَالَ لَهُمُ
ٱلنَّاسُ إِنَّ ٱلنَّاسَ قَدۡ جَمَعُواْ لَكُمۡ فَٱخۡشَوۡهُمۡ فَزَادَهُمۡ
إِيمَٰنٗا وَقَالُواْ حَسۡبُنَا ٱللَّهُ وَنِعۡمَ ٱلۡوَكِيلُ فَٱنقَلَبُواْ
بِنِعۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ وَفَضۡلٖ لَّمۡ يَمۡسَسۡهُمۡ سُوٓءٞ
وَٱتَّبَعُواْ رِضۡوَٰنَ ٱللَّهِۗ وَٱللَّهُ ذُو فَضۡلٍ عَظِيمٍ
“(Yaitu) orang-orang
(yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang
mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk
menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu
menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi
Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”. Maka mereka
kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak
mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah
mempunyai karunia yang besar.” (Ali Imran: 173-174).
Daulah mendapatkan kemenangan dengan sebab kejujuran bala tentaranya:
ٱلَّذِينَ إِن
مَّكَّنَّٰهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ أَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَوُاْ
ٱلزَّكَوٰةَ وَأَمَرُواْ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَنَهَوۡاْ عَنِ ٱلۡمُنكَرِۗ
وَلِلَّهِ عَٰقِبَةُ ٱلۡأُمُورِ
“(yaitu) orang-orang
yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka
mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma´ruf dan
mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali
segala urusan.” (Al Hajj: 41).
Daulah mendapatkan kemenangan dengan sebab pengorbanan-pengorbanan bala tentaranya dan para prajuritnya:
ٱلَّذِينَ ٱسۡتَجَابُواْ لِلَّهِ وَٱلرَّسُولِ مِنۢ بَعۡدِ مَآ أَصَابَهُمُ ٱلۡقَرۡحُ
“(Yaitu) orang-orang
yang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka
(dalam peperangan Uhud).” (Ali Imran: 172).
Luka tidak mengurungkan
mereka, penggerebekan-penggerebekan tidaklah membuat mereka takut,
pemenjaraan tidaklah merubah mereka, mereka tidak peduli dengan
pembunuhan, pengusiran, sedikit kawan dan penelantaran (umat islam).
Mereka sabar terhadap rasa lapar, kekurangan dan keterhalangan (dari
dunia) bertahun-tahun, berbulan-bulan, dan berhari-hari, mereka teguh,
mereka bersabar dan terus bersabar; di penjara-penjara, di rumah-rumah,
di bawah tanah, di gunung-gunung, di lembah-lembah, di padang pasir, dan
tahukah kalian apa padang pasir itu? di tempat terbuka di tempat panas
gersang.
Daulah mendapatkan
kemenangan, dikarenakan ia itu sebagaimana dikatakan oleh Amir-nya Abu
‘Umar -rahimahullah- adalah dibangun di atas serpihan jasad-jasad para
syuhada, disiram dengan darah-darah para syuhada, dan dengannya
pasar-pasar surga dilakukan transaksi.
Daulah mendapatkan
kemenangan; dikarenakan taufiq Allah terhadap jihad ini adalah lebih
jelas dari terang matahari di siang bolong.
Daulah mendapatkan kemenangan; dikarenakan ia tidak terkontaminasi usaha haram atau manhaj yang coreng.
Daulah mendapatkan
kemenangan; dikarenakan kejujuran para pemimpinnya yang telah berkorban
dengan darah-darah mereka, dan dengan kejujuran bala tentaranya yang
menegakkannya dengan lengan-lengan mereka -kami menilai demikian sedang
Allah-lah yang menilai sebenarnya-.
Daulah mendapatkan kemenangan; dikarenakan ia adalah persatuan mujahidin dan tempat perlindungan orang-orang yang tertindas.
Daulah mendapatkan
kemenangan; dikarenakan Islam itu mulai nampak dan naik menjulang, dan
awanpun mulai tersingkap, serta kekafiranpun mulai terhempas dan
terhancurkan.
Daulah mendapatkan
kemenangan; dikarenakan ia adalah doa orang-orang yang didhalimi, air
mata orang-orang yang menderita, teriakan para tawanan serta harapan
anak-anak yatim.
Daulah mendapatkan
kemenangan; dikarenakan kekafiran dengan semua aliran dan golongannya
telah bersekongkol terhadapnya, dan setiap PENGANUT HAWA dan BID’AH yang
pengecut lagi penakut mulai mencelanya, sehingga kami-pun yakin
terhadap kejujuran tujuan dan kebenaran jalan ini.
Daulah mendapatkan
kemenangan; dikarenakan kami sangat yakin bahwa Allah tidak akan
mematahkan hati para muwahhidin mustadl’afin, dan tidak akan membuat
senang orang-orang dhalim dengan penderitaan kami.
Daulah mendapatkan kemenangan; dikarenakan Allah Ta’ala telah memberikan janji di dalam Al Qur’an, di mana Dia berfirman:
وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ
ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسۡتَخۡلِفَنَّهُمۡ فِي
ٱلۡأَرۡضِ كَمَا ٱسۡتَخۡلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ وَلَيُمَكِّنَنَّ
لَهُمۡ دِينَهُمُ ٱلَّذِي ٱرۡتَضَىٰ لَهُمۡ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّنۢ
بَعۡدِ خَوۡفِهِمۡ أَمۡنٗاۚ يَعۡبُدُونَنِي لَا يُشۡرِكُونَ بِي شَيۡٔٗاۚ
وَمَن كَفَرَ بَعۡدَ ذَٰلِكَ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ
“Dan Allah telah
berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan
amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka
berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang
sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka
agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan
menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman
sentausa. Mereka tetap mengibadahi-Ku dengan tiada mempersekutukan
sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah
(janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An Nur: 55).
Inilah hakikat itu.
Wahai bala tentara Daulah..wahai para prajurit Daulah..wahai para pembela Daulah di setiap tempat:
Ingatlah selalu dan
ketahuilah bahwa kemenangan ini, dan setiap kemenangan itu hanyalah dari
Allah saja, dengan karunia Allah saja dan kemurahan-Nya atas kalian,
tidak ada daya bagi kalian dan bagi Daulah kalian serta tidak ada
kekuatan kecuali dengan (kekuatan) Allah.
Maka ingatlah selalu
kelemahan kalian dan kecilnya kemampuan kalian, dan rendahkanlah diri
kalian selalu kepada Allah dan janganlah kalian angkuh terhadap
hamba-hamba-Nya, serta jangan sekali-kali rasa ujub dan bangga diri
menimpa diri kalian.
Ambillah pelajaran dari
pelajaran-pelajaran masa lalu, karena tidaklah Allah Tabaraka Wa Ta’ala
mengkaruniakan kepada bala tentara-Nya seuatu kemenangan terus rasa ujub
atau bangga diri menimpa diri mereka melainkan Allah memberikan hukuman
kepada mereka dengan sangsi, kekalahan dan bencana yang besar.
Allah Ta’ala berfirman:
أَوَلَمَّآ أَصَٰبَتۡكُم
مُّصِيبَةٞ قَدۡ أَصَبۡتُم مِّثۡلَيۡهَا قُلۡتُمۡ أَنَّىٰ هَٰذَاۖ قُلۡ
هُوَ مِنۡ عِندِ أَنفُسِكُمۡۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ
“Dan mengapa ketika kamu
ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan
kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar),
kamu berkata: “Darimana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu
dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas
segala sesuatu.” (Ali Imran: 165).
Dan berfirman:
مَّآ أَصَابَكَ مِنۡ
حَسَنَةٖ فَمِنَ ٱللَّهِۖ وَمَآ أَصَابَكَ مِن سَيِّئَةٖ فَمِن نَّفۡسِكَۚ
وَأَرۡسَلۡنَٰكَ لِلنَّاسِ رَسُولٗاۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ شَهِيدٗا
“Apa saja nikmat yang
kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu,
maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul
kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.” (An Nisa:
79).
Dan berfirman:
وَيَوۡمَ حُنَيۡنٍ إِذۡ
أَعۡجَبَتۡكُمۡ كَثۡرَتُكُمۡ فَلَمۡ تُغۡنِ عَنكُمۡ شَيۡٔٗا وَضَاقَتۡ
عَلَيۡكُمُ ٱلۡأَرۡضُ بِمَا رَحُبَتۡ ثُمَّ وَلَّيۡتُم مُّدۡبِرِينَ
“Dan (ingatlah)
peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya
jumlah (mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu
sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian
kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai.” (At Taubah: 25).
Maka perbanyaklah kalian
dari mengucapkan: Laa haula wa laa quwwata illaa billaah, dan berlepas
dirilah dari daya dan kekuatan kalian dan menyandarkannya kepada Daya
dan Kekuatan Allah, dan perbaharuilah niat-niat kalian serta
bertawakkallah selalu kepada Allah.
Janganlah kalian
terpedaya dengan kemenangan yang Allah berikan kepada kalian, terus
kalian malah menganggap enteng musuh kalian, sehingga kekalahanpun bisa
ditimpakan kepada kalian.
Janganlah kalian
terpesona dengan harta rampasan yang Allah berikan kepada kalian berupa
pesawat-pesawat, tank-tank, kendaraan-kendaraan tempur, hummer-hummer,
meriam-meriam, senjata-senjata, amunisi-amunisi,
perlengkapan-perlengkapan dan barang-barang lainnya, karena bukan dengan
sebab itu kalian diberikan kemenangan, maka bersandarlah kepada Allah
bukan kepada barang-barang itu, bertawakkallah kepada-Nya bukan kepada
hal-hal itu, dan bila kalian memasuki suatu desa maka tundukkan
kepala-kepala kalian, mencontoh sunnah Nabi kalian shallallahu ‘alaihi
wa sallam, jangan kalian saling berbangga-banggaan dan jangan saling
memamerkan.
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ فَخُورٖ
“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Luqman: 18).
Dan terimalah taubat
dari orang yang ingin bertaubat, tahanlah tangan kalian dari orang yang
menahan diri dari menyerang kalian, berikanlah pemaafan bagi
keluarga-keluarga kalian Ahlussunnah, dan berikanlah pemafaan kepada
suku-suku kalian dalam rangka mencontoh sunnah Nabi kalian shallallahu
‘alaihi wa sallam di saat sudah mampu (membalas).
وَلۡيَعۡفُواْ وَلۡيَصۡفَحُوٓاْۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَكُمۡ
“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?” (An Nur: 22).
Dan inganlah
selalu..bahwa selamatnya seribu orang kafir karena tanpa disengaja
adalah lebih kami sukai dari membunuh seorang muslim secara tidak
disengaja.
Hati-hatilah terhadap
harta dunia karena ia sudah terbentang di hadapan kalian dan ia datang
begitu saja ke hadapan kalian, maka janganlah ia memperdaya kalian,
jangan sampai ia membuat kalian terlena, lanjutkan jihad kalian.
وَمَا عِندَ ٱللَّهِ خَيۡرٞ وَأَبۡقَىٰٓ
“Sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Al Qashash: 60).
Sesungguhnya singa-singa pertarungan cita-citanya..
Di hari pertempuran adalah musuh yang diterjang bukan rampasan.
Berjalanlah untuk
berjumpa dengan Rabb kalian, jangan terlena dengan kemenangan, dan
jangan lunak terhadap musuh kalian, karena Allah telah menyodorkan
kepada kalian pundak-pundak mereka, maka lanjutkan gerak kalian, karena
peperangan sebenarnya belum panas, di mana ia tidak akan memanas kecuali
di Baghdad dan Karbala, maka pakailah sabuk dan bersiaplah dan
siapkanlah segalanya.
Dan kami tidak lupa,
kami sampaikan kepada seluruh bala tentara dan para prajurit serta para
anshar (pembela) Daulah Islamiyyah di setiap tempat berita kesyahidan
seorang pendekar dari sekian banyak pendekar Daulah Islamiyyah, seorang
panglima dari sekian banyak panglima-panglimanya, seorang simbol dari
sekian simbolnya, seorang tokoh dari sekian banyak tokoh-tokohnya serta
seorang imam dari sekian banyak imam-imamnya, dan seorang pemimpin dari
sekian banyak pemimpinnya, yaitu ‘Adnan Ismail Najm Abu Abdirrahman Al
Bailawiy Al Anbariy.
Ya Rabb jadikanlah di surga tempat tinggalnya..
Dan dengan keinginan meraih hal yang sama kami sambut bencana ini.
Dengan pujian, kesabaran yang indah serta keridloan..
Kami terima ketentuan dan kami terima dengan keikhlasan.
Kami terima kabar duka kehilangan para kekasih seraya bercita tinggi..
Kami hadapi para pencela dengan penuh ketabahan.
Allah-lah yang menilainya, dan kami tidak mensucikan seorang-pun di hadapan Allah.
Beliau tergolong
Assabiqun Al Awwalun di dalam menjihadi kaum salibis di bumia Rafidain.
Bila kalian teringat dengan Al Anshar maka kalian pasti menganggapnya
sebagai para pendahulu pilihan, dan bila kalian teringat dengan At
Tauhid wal Jihad maka kalian pasti menggolongkannya dalam jajaran para
perintis, dan bila kalian teringat dengan Daulah Islamiyyah maka kalian
pasti menggolongkannya dalam jajaran para pengokoh pilar-pilarnya dan
para panglima yang senior, dan bila kalian teringat dengan sejarah maka
kalian pasti menggolongkannya dalam jajaran mujahidin penakluk lagi
pahlawan, serta bila kalian teringat dengan orang-orang pemberani,
dermawan dan mulia maka kalian pasti menggolongkannya dalam barisan
intinya.
Beliau rahimahullah
tidak merelakan kehinaan di dalam dien-nya, beliau penyabar, kokoh lagi
pemberani, cita-cita tinggi yang melebihi segala cita-cita, sumber
kedengkian bagi orang-orang munafiq dan murtaddin, bila ia singgah di
suatu tempat maka mereka ciut, hina dan kecewa, kebanggaan para
mujahidin muwahhidin, bila mereka melihatnya maka mereka senang, merasa
aman dan tentram, saya tidak melihatnya kecuali selalu shalat di malam
hari, shaum lagi berjihad di siang hari, dan saya tidak melihat pada
dirinya kecuali ketinggian harga diri, ‘izzah dan kejantanan, dan saya
tidak berbicara dengannya kecuali saya mendengar darinya tauhid dan al
wala dan al bara.
Syaikh Abu Mush’ab Az
Zarqawiy telah singgah padanya, maka ia adalah sebaik-baiknya anshar
bagi sebaik-baiknya muhajir, maka ia menemaninya dan menyertainya selama
tiga tahun, sehingga ia menimba dari Abu Mush’ab aqidah dan manhaj-nya,
dan ia adalah tangan kanannya, sampai akhirnya Allah mengujinya dengan
taqdir ditawan oleh salibis, maka ia menetap di madrasah Yusuf beberapa
tahun dalam pencarian ilmu, di mana ia itu bagaikan unta yang kehausan,
tidak bosan dari mencari ilmu setiap harinya, ia membaca Al Qur’an
dengan sepuluh qira’ah dan ia menguasainya, ia itu tergolong penghafal,
ia membaca berbagai kitab tafsir dan sirah, mempelajari nahwu, hadits
dan ushul fiqh, dan pencarian ilmu yang beliau lakukan ini tidak
menghalanginya dari mengayomi urusan-urusan ikhwan-nya, di mana di
penjara ia adalah amir yang mengurusi ikhwan-nya dan menyelesaikan
permasalahannya serta beliau tampil menghadang ahli kebatilan dan
orang-orang yang menyimpang serta tipu daya mereka.
Kemudian Allah Tabaraka
Wa Ta’ala mengaruniakan nikmat, sehingga ia bebas dari penjara di waktu
yang sangat sulit atas Daulah kurang lebih dua tahun yang lalu,
sedangkan ia telah menggabungkan antara ilmu syar’iy dengan ilmu
militer, ia keluar seraya kehausan ingin menghadapi musuh-musuh Allah,
maka ia-pun melanjutkan kegiatan malam dengan siang, sebagai musyrif
‘aam yang berpindah-pindah dari satu wilayah ke wilayah yang lain, ia
membuat strategi untuk peperangan dan ia mengatur
penyerangan-penyerangan, maka ia menyalakan api peperangan dan ia
menjadikan Iraq sebagai neraka bagi Rafidlah dan murtaddin. Dan dengan
karunia Allah ia-lah perencana dan panglima peperangan-peperangan
terakhir kemarin di Al Anbar, Nainawa dan Shalahuddien, dan ia-lah tokoh
pimpinan yang mengatur untuk penaklukan-penaklukan dan
kemenangan-kemenangan terakhir kemarin.
Semoga Allah merahmatimu
wahai Abu Abdirrahman, dan semoga Allah menempatkanmu di Al Firdaus Al
A’la, serta mengumpulkanmu bersama para nabi, shiddiqin, syuhada dan
shalihin, dan mereka itu adalah sebaik-baiknya teman.
Adapun Al Bailawiy, maka
ia itu telah meraih syahadah yang selama itu selalu ia cita-citakan dan
ia upayakan peraihannya, kami menilainya demikian sedang Allah-lah yang
menilai sebenarnya.
Adapun kalian wahai bala
tentara Daulah Islamiyyah, maka berjalanlah di atas jalan Abu
Abdirrahman, singsingkan lengan kalian, dan janganlah kalian melepaskan
sejengkalpun dari wilayah yang telah kalian bebaskan, dan jangan sampai
orang-orang Rafildlah kembali menginjakkan kaki mereka di sana kecuali
di atas jasad-jasad kalian dan serpihan-serpihan daging kalian,
lanjutkanlah gerak kalian ke Baghdad Ar Rasyid, Baghdad Al Khilafah, di
mana di sana kita punya rencana pembersihan, kagetkan mereka dengan
penyerangan ke benteng-bentengnya, jangan biarkan mereka bisa bernafas,
yakinlah kalian dengan pertolongan Allah selagi kalian bertaqwa
kepada-Nya, karena Rafidlah itu adalah umat pengecut, mana mungkin Allah
memberikan kepada mereka kemenangan atas kalian sedangkan mereka itu
musyrikin para penyembah manusia dan batu.
Dan ini adalah pesan terakhir kepada Nuri (Al Malikiy) si dungu Rafidlah:
Apa yang telah kamu
lakukan dengan kaummu wahai dungu, dan tidak ada yang lebih dungu darimu
kecuali orang yang rela menjadikanmu sebagai pemimpin dan panglima.
Jadi saja kamu sebagai
penjual pakaian-pakaian dalam, kamu tidak becus dalam urusan politik dan
kepemimpinan militer! Kamu telah menyia-nyiakan di hadapan kaummu
kesempatan bersejarah di dalam menguasai Iraq, dan kamu akan selamanya
dilaknat oleh Rafidlah selagi mereka masih ada tersisa.
Ya, sesungguhnya kami
punya perhitungan, kamu benar sedangkan kamu ini pendusta, perhitungan
yang berat lagi panjang, akan tetapi perhitungan itu tidak akan di
Samara atau Baghdad, akan tetapi di Karbala yang ternajisi, Najaf Al
Asyrak (Najaf yang paling syirik). Dan tunggulah, sesungguhnya kami
bersamamu sama-sama menunggu.
وَٱللَّهُ غَالِبٌ عَلَىٰٓ أَمۡرِهِۦوَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ
“Dan Allah Maha Kuasa terhadap urusan-Nya, akan tetapi mayoritas manusia tidak mengetahui.”
Penterjemah berkata:
Selesai dialihbahasakan pada tanggal 14 Sya’ban 1435H oleh Abu Sulaiman
Al Arkhabiliy di LP Kembang Kuning Nusakambangan.
sumber : http://millahibrahim-news.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar